Selasa, 14 April 2009

TELADAN SEORANG YANG DI PANGGIL


seorang yang di panggil dalam ;adang pelayanan sering tidak menjadi berkat dimana ia berada. dari hal ini saya tertarik untuk menulis tentang hal ini. special for you para pelayan-pelayan Tuhan.

TELADAN HIDUP DALAM PELAYANAN
(I Raja-raja 19:19-`21)

Seseorang yang di beri tanggung jawab, tentunya terlebih dahulu karena orang itu memiliki kriteria yang cocok untuk menjalankan tanggung jawab itu. Dalam bidang apapun itu hal ini pasti berlaku. Nats yang kita baca menceritakan kisah tentang pemanggilan Elisa yang kelak akan meneruskan pelayanan dari Elia. Kisah ini menarik dan penuh makna bagi orang yang terpanggil dalam pelayanan.
Elisa dipersiapkan untuk suatu tugas yang besar dan tentunya Tuhan terlebih dahulu sudah melihat kriteria atau hal-hal yang mendukung dalam diri Elisa untuk diberi tanggung jawab yang besar ini.

Orang yang hidup dalam panggilan memiliki kualitas hidup yang patut untuk diteladani

1. Merupakan seorang pekerja keras. (ay 19)
Elisa, ketika ia di dapati oleh elia dia sedang membajak dengan dua belas pasang lembu. “who was plowing with twelve yoke of oxen before him, and he with the twelfth” Elisha’s occupation is an indication of his character. He is emphatically a man of peace> Pekerjaan Elisa mengindikasikan karakternya. Dia adalah orang yang sungguh-sungguh (Albert Barnes’s Notes on the Bible)
Sesorang yang terpanggil dalam pelayanan mestinya adalah orang yang giat melakukan tugasnya, memiliki tanggung jawab , Elisa adalah seorang yang mempunyai kemampuan. Terbukti dia memiliki 12 pasang lembu yang sedang membajak di ladang, dan dia sendiri yang mengemudikan ke-12 pasang lembu itu. 12 pasang lembu berarti ada 24 ekor lembu. Jadi dari sini kita bisa melihat bahwa Elisa adalah : Seorang yang memiliki kemampuan. Tuhan melihat hal ini dalam diri elisa oleh sebab itu Dia dipersiapkan untuk Tugas yang besar yaitu melanjutkan pelayanan Elia.
Elisa dipanggil untuk melayani Tuhan pada waktu ia sedang sibuk bekerja, bukan pada waktu ia sedang menganggur / bermalas-malasan.
Hal yang sama terjadi dengan Petrus, Andreas, Yohanes, dan Yakobus (Mat 4:18-22), dan juga dengan Matius (Mat 9:9 - ‘duduk’ di sini bukan bermalas-malasan, tetapi sedang bekerja, karena pemungut cukai ini sedang ‘duduk di rumah cukai’).
Pulpit Commentary: "God never calls an idle man" (= Allah tidak pernah memanggil orang yang malas) Pelayanan adalah suatu tugas dan tanggung jawab yang besar, oleh sebab itu tidak mungkin Tuhan memilih orang yang bermalas-malasan dan tidak memiliki kemampuan untuk menunaikan tanggung jawabnya. Tuhan memilih orang yang memiliki kemampuan, giat dalam menjalankan tugas sungguh-sungguh.
2. Mengutamakan hal Rohani (ay 19b-20).
Ketika elia lewat dia melemparkan jubahnya dan dengan segra ketika elisa melihat hal itu dia ikut, meninggalkan kesibukannya dan mengikuti elia. Melemparkan jubah kepadanya. Jubah nabi adalah tanda dari pekerjaan nabi’ (Keil). Karena itu, melemparkan jubah itu kepada atau ke atas Elisa merupakan suatu cara yang tepat / cocok dan berarti untuk menunjuknya pada jabatan nabi. ‘Pada waktu Elia naik ke surga, Elisa mendapatkan seluruh jubah itu’ . Pulpit Commentary: "The mantle of Elijah thrown upon Elisha was the sign that he was to ‘follow him,’ to be his servant first, and eventually to be his successor. The mantle, accordingly, came fully into the possession of Elisha when his ‘master’ was ‘taken from his head’ (2Kings 2:3,13)" [= Pelemparan jubah Elia kepada Elisa merupakan tanda bahwa ia harus ‘mengikutinya’, mula-mula sebagai pelayannya, dan akhirnya menjadi penggantinya. Karena itu, jubah itu menjadi milik Elisa sepenuhnya pada waktu ‘tuan’nya ‘diambil dari kepalanya’ (2Raja-raja 2:3,13)] Hal ini menandakan bahwa Elisa dipanggil untuk Tugas kenabian. Jubah yang dipakai oleh Elia adalah jubah yang khusus untuk nabi yang kemungkinan menurut para komentari Alkitab jubah itu terbuat dari kulit dan berbulu (Zak 13:4). Hal yang menarik dalam peristiwa ini adalah elisa tanggap dengan pelemparan jubah itu, pelemparan jubah itu ditujukan kepadanya dan dia merespon hal rohani ini. Dia meninggalkan kesibukannya dengan segera, tanpa mengulur-ulur waktu. Hal ini menunjukkan karakter seorang Elisa yang peka terhadap hal-hal rohani dan ia mengutamakan itu. Tidak banyak orang yang dapat melakukan hal itu, pekerjaan yang dihadapi elisa saat itu adalah juga penting untuk kebutuhan jasmaninya, tetapi ketika Elia melemparkan jubah sebagai suatu tanda panggilan kenabian, dia lebih mengutamakan panggilan itu dan meniggalkan hal-hal yang bersifat duniawi.
3. Rela/ mau berkorban. (ay 21)
Elisa bukanlah orang yang kurang berada tetapi orang kaya. Hal ini terlihat ia membajak dengan menggunakan 12 pasang lembu berarti ladng yang ia garap bukan ukuran kecil tetapi sangat besar sehingga memerlukan 24 ekor lembu untuk membajak. Ketika ia mendapat panggilan ia meninggalkan semuanya dan bukan hanya itu saja dia, ia bahkan menyembelih lembunya dan menggunakan bajaknya sebagai kayu api untuk memasak lembu itu. Hal ini mengindikasikan bahwa apa yang dia miliki kini tidak berarti lagi ia milihat panggilan itu segai sesuatu yang yang lebih utama dari semua sehingga ia mau berkorban. Berarti hal-hal yang dikorbankan oleh elisa adalah:
a. mengorbankan kekayaan.
b. meninggalkan orang tuanya
c. dari status orang kaya ia merespon panggilan dan hanya menjadi seorang pelayan dari Elia
demikian juga yang dilakukan oleh beberapa murid Yesus ketika mereka dipanggil untuk melayani. Petrus dan kawan-kawannya meninggalkan perahu dan jala mereka untuk merespon panggilan dari Yesus. Semua ini dimaksudkan untuk belajar melayani dan sekaligus melatih kerendahan hati / penyangkalan diri.
Hidup dalam panggilan bukanlah sesuatu yang biasa-biasa saja. Diperlukan suatu loyalitas yang tinggi untuk terjun didalamnya. Ketika Elisa mendapat panggilan dia rela mengorbankan segalanya. Dia juga memiliki sikap kesungguhan dan merendahkan dirinya. Bukti yang terlihat adalah dia di pakai dengan luar biasa, menyembuhkan yang sakit, membangkitkan yang mati, dan menyampaikan nubuat untuk umat pilihan Tuhan.biarlah kita meneladani sikap ini.
TUHAN MEMBERKATI

Oleh:
Sukardi










TRIKOTOMI ATAU DIKOTOMI???


TRIKOTOMI ATAU DIKOTOMI
Suatu Penelahaan Teologis Terhadap Konsep
Natur Konsitusional Manusia

I. PENDAHULUAN

Manusia merupakan mahkluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Manusia memiliki unsur-unsur hidup yang sangat unik dan penuh dengan misteri. Ketika penilitian tentang manusia ingin dilanjutkan pada doktrin-doktrin yang lebih spesipik maka hal yang perlu didalami terlebih dahulu adalah unsur-unsur dari pembangun manusia itu. Telaah terhadap unsur pembangun manusia telah dilakukan sehingga muncul berbagai pandangan yang berbeda-beda dan masing-masing memiliki dasar alkitabiah masing-masing pula. Makalah berikut ini diangkat untuk membahas tentang dua pandangan yang berbeda yaitu konsep trikotomi dan dikotomi. Konsep ini masing-masing memiliki landasan Alkitab. Namun sebagai mahasiswa teologi hal ini perlu diangkat sebagai bahan pertimbangan dalam mendalami doktrin manusia dan melakukan telaah terhadap Alkitab untuk menempatkan teologi kita pada posisi yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan.


II. PEMBAHASAN.
A. Konsep Trikotomi dan Dikotomi.

A.1 Trikotomi

Trikotomi adalah konsep yang memiliki pandangan bahwa natur manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Pandangan ini berdasarkan pada pengertian bahwa, Allah menciptakan manusia, dengan memberikan tiga unsur utama di dalam diri manusia yaitu tubuh, jiwa dan roh. Sebagaimana juga dalam pandangan para filsuf Yunani, memandang bahwa tubuh, jiwa dan roh adalah satu kesatuan, yang ada dalam manusia yang hidup.
Tubuh adalah unsur lahiriah manusia, unsur daging yang dapat dilihat, didengar, disentuh, dan sebagainya
.
Jiwa adalah unsur batiniah manusia yang tidak dapat dilihat. Jiwa manusia meliputi beberapa unsur, pikiran, emosi (perasaaan) dan kehendak. Dengan pikirannya, manusia dapat berpikir, Dengan perasaannya manusia dapat mengasihi dan dengan kehendaknya, manusia dapat memilih.

Roh adalah prinsip kehidupan manusia. Roh adalah nafas yang dihembuskan oleh Allah ke dalam manusia dan kembali kepada Allah, kesatuan spiritual dalam manusia. Roh adalah sifat alami manusia yang 'immaterial' yang memungkinkan manusia berkomunikasi dengan Allah, yang juga adalah Roh.
Pencetus awal dari teori ini adalah Irenius yang mengajarkan bahwa orang percaya memiliki tiga komponen di dalam diri mereka: tubuh, jiwa dan roh, sedangkan orang yang tidak percaya hanya memiliki jiwa dan tubuh.Teolog lain yang dikaitkan dengan konsep ini adalah Apollinarius yang beranggapan bahwa manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh atau akal budi. (Pneuma atau nous). Sebenarnya pemikiran trikotomi ini berasal dari filsafat yunani, khususnya pandangan Plato yang juga melihat manusia itu terdiri atas tiga unsur. Plato dan para filsuf Yunani lainnya menempatkan anti tesis yang tajam antara hal-hal yang terlihat dan yang terlihat. menurut mereka dunia substansi material bukan diciptakan oleh Allah melainkan secara kekal bertentangan dengan Allah.
Kebanyakan para penganut teori ini mendasarkan pandangannya pada perkataan Paulus dalam I Tesalonika 5:23 dan penulis Ibrani dalam Ibrani 4:12 yang secara jelas menyebutkan tiga unsur tersebut yang berbunyi demikian:
"Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya, dan semoga roh (πνευμα, spirit), jiwa(ψυχη, soul) dan tubuhmu (σωμα, body) terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita." I Tes. 5:23
"Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum,; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." Ibr. 4:12

A.2 Dikotomi
Dikotomi adalah pandangan yang percaya bahwa natur manusia terdiri dari dua bagian saja, yaitu tubuh dan roh (jiwa termasuk di dalamnya). Pandangan ini merupakan pandangan yang paling populer sepanjang sebagian besar sejarah gereja. Konsep dikotomi ini di anut sejak sekitar awal mula pemikiran Kristen. Menyusul konsili di konstantinopel pada tahun 381, pendapat ini menjadi makin populer sehingga dapat dikatakan menjadi kepercayaan yang secara resmi diterima oleh gereja
Kebanyakan para penganut teori ini mendasarkan pandangannya pada argumentasi berikut ini:
1. Ketika Allah menciptakan manusia, Allah menghembuskan ke dalam manusia hanya satu prinsip saja, yaitu jiwa/napas yang hidup. Kej. 2:7
Para penganut dikotomi memandang istilah jiwa dan roh di dalam Alkitab bukan sebagai dua substansi yang berbeda, tetapi merupakan istilah yang sering dipakai secara bergantian/bisa dipertukarkan oleh penulis Alkitab, misalnya dalam Mat. 6:25; 10:28 (Manusia disebut dengan istilah tubuh dan jiwa) dan Pkh. 12:7; I Kor. 5:3,5 (manusia disebut dengan istilah tubuh dan roh). Contoh lainnya adalah Kej. 41:8; Maz. 42:6; Mat. 20:28; 27:50; Yoh. 12:27; Ibr. 12;23; Why. 6:9.
2. Penyebutan jiwa dan roh secara bersamaan seperti dalam I Tesalonika 5:23 dan Ibrani 4:12, tidak harus ditafsirkan sebagai adanya dua substansi yang berbeda. Sebab jika ditafsirkan demikian, maka manusia tidak hanya dibagi dalam tiga substansi saja, melainkan lebih, misalnya dalam Mat. 22:37 menyebutkan secara bersamaan hati, jiwa dan akal budi (pikiran).
3. Pada umumnya kesadaran manusia hanya menunjukkan adanya dua bagian dalam diri manusia, yaitu unsur yang badaniah/jasad (yang dapat dilihat) dan unsur rohaniah (yang tidak dapat dilihat) .

B. Pandangan Alkitab Terhadap Unsur Pembentuk Manusia
Jika diselidiki dengan lebih jelas maka akan ditemukan bahwa Alkitab tidak melukiskan manusia secara ilmiah dan faktanya. Alkitab juga tidak memakai bahasa Ilmiah yang baku. Alkitab memakai istilah seperti jiwa, roh dan hati sebagai padanan kata yang bisa saling menggantikan. Hal ini karena bagian tubuh tidak secara terutama dilihat dari sudut pandang perbedaan dan kesalingterkaitan mereka dengan bagian-bagian yang lain, tetapi untuk menandai atau menekankan aspek-aspek yang berbeda dari manusia yang utuh, di dalam hubngannya dengan Allah. Anthony A. Hoekema dalam bukunya yang bejudul Manusia:Ciptaan Menurut Gambar Allah mengatakan bahwa “Alkitab pertama-tama tidak tertarik pada bagian-bagian yang membentuk manusia atau struktur psikologisnya tetapi lebih pada hubungan-hubungan yang didalamnya manusia berdiri”
Yang menjadi awal permasalahan dalam Alkitab adalah ketika sampai pada Kejadian 2:7 “Ketika Itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu dan tanah dan menghembuskan napas hidup kedalam hidungnya ; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup”. Dalam ayat ini dengan gamblang dijelaskan akan konsep pembentukan manusia. Ayat ini juga berisi bukti-bukti akan susunan elemen natur manusia dimana rumusan tubuh manusia adalah debu tanah + napas hidup = makhluk (manusia) hidup atau jiwa yang hidup (Merupakan pegangan yang kuat bagi penganut Dikotomi). Namun ada dua ayat yang tampaknya bertentangan dengan pernyataan dikotomis dari Alkitab yaitu 1Tes 5:23 "Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus" dan satu lagi dalam Ibr 4:12, "Sebab Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sunsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.". Dari ayat ini seolah-olah tubuh, jiwa dan roh di tempatkan pada porsi yang berbeda. (Merupakan pegangan yang kuat bagi penganut trikotomi)
Rupanya yang menjadi inti permasalahan dalam pandangan unsur konstituen manusia terdapat pada kata Jiwa/nephes(PL)/Psyche(PB) dan Roh/Ruach(PL)/ pneuma(PB). Paham trikotomi menyebutkan hal ini sebagai suatu substansi yang harus dibedakan sementara paham dikotomi memandang kata ini sebagai suatu padanan karena Alkitab sering menggunakan kata ini secara bergantian.
Lihatlah hasil penjabaran berikut ini untuk kata jiwa dan kata roh:
a. Kata Jiwa Dalam Alkitab
Tiga kata Ibrani dalam Perjanjian Lama dan satu dalam kata Yunani dalam Perjanjian Baru yang menggambarkan tentang jiwa. Yaitu:
a. Neshamah diterjemahkan sekali dalam Yesaya 57:16, "padahal Akulah yang membuat nafas hidup.
b. Nedibah diterjemahkan sekali dalam Ayub 30:16, bagian pertama "Oleh sebab itu jiwaku hancur dalam diriku."
c. Nephes adalah merupakan kata lain dalam perjanjian Lama yang diterjemahkan dengan "nyawa", "mahluk" atau "jiwa", berasal dari nasphash yang berarti "untuk bernapas". Muncul 752 kali dan diterjemahkan dengan 43 kata yang berbeda.
d. Psuche adalah merupakan ucapan kata Yunani dalam Perjanjian Baru yang dinyatakan sebanyak 105 kali dan diterjemahkan dalam enam kata yang berbeda. Psuche mempunyai arti yang sama dengan nephes dalam bahasa Ibrani.
B. Kata Roh dalam alkitab
Dari kata ruach, digunakan 377 kali dalam Perjanjian Lama, menunjuk kepada percikan tenaga yang hakiki bagi kehidupan eksistensi individual. Dalam Alkitab pada umumnya sering diterjemahkan sebagai :
a. "roh", "angin", atau "napas" (Kejadian 8:1)
b. Digunakan juga untuk menunjuk kepada vitalitas (Hakim 15:19), keberanian (Yosua 2;11), kemarahan atau amarah (Hakim 8:3), watak (Yesaya 54:6), sifat tabiat (Yehezkiel 11:19), dan tempat emosi (I Samuel 1:15).
c. Sering digunakan untuk menyatakan Roh Allah, seperti yang terdapat dalam Yesaya 63:10.
d. Pneuma adalah kata yang sama dalam Perjanjian Baru Pneuma menunjuk kepada 'suasana hati', 'sikap', atau 'keadaan perasaan' (Roma 8:15, I Kor 4:21, II Tim 1:7, I Yoh 4:6), pelbagai aspek kepribadian (Gal 6:1, Roma 12:11).

Dari penjabaran diatas maka paham trikotomi yang mengatakan bahwa “Jiwa adalah unsur batiniah manusia yang tidak dapat dilihat. Jiwa manusia meliputi beberapa unsur, pikiran, emosi (perasaaan) dan kehendak.dapat terbantahkan karena terkadang kata roh pun diangkat untuk mengungkap hal itu.
Telaah Louis berkhof terhadap Alkitab dalam bukunya tentang Teologi Sistematika (Doktrin manusia) mengungkapkan seperti ini.
Mari kita perhatikan paralelisme yang dipakai dalam Luk 1:46-47; "Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku." Alkitab menyebut manusia sering dengan istilah "tubuh dan jiwa" (Mat 6:25; 10:28) dan di bagian lain disebutkan "tubuh dan roh" (Pkh 12:7; 1Kor 5:3,5). Kematian sering disebut sebagai berhentinya jiwa (Kej 35:18; 1Raj 17:21; Kis 15:26) dan juga berhentinya roh (Mzm 31:5; Luk 23:46; Kis 7:59). Lebih jauh lagi, baik "jiwa" maupun "roh" dipakai untuk menunjukkan elemen bukan materi dari orang mati (1Pet 3:19; Ibr 12:23; Why 6:9; 20:4). Perbedaan Alkitab yang penting adalah demikian: kata "roh" menunjukkan elemen spiritual dalam diri manusia sebagai prinsip kehidupan dan tindakan yang mengatur tubuh; sedangkan istilah "jiwa" menunjuk elemen yang sama sebagai subjek dari tindakan di dalam diri manusia, dalam Perjanjian Lama, Mzm 10:1,2; 104:1; 146:1; Yes 42:1; band. juga dengan Luk 12:19. Dalam berbagai keadaan secara khusus kata itu menunjuk kedalaman diri manusia sebagai tempat kedudukan perasaan manusia. Semua ini selaras dengan Kej 2:7: "Dan Tuhan Allah ... menghembuskan ke dalam hidungnya nafas hidup; dan manusia menjadi makhluk yang hidup." Jadi dapatlah dikatakan bahwa manusia mempunyai roh, yang juga adalah jiwa. Jadi Alkitab menunjukkan hanya dua saja elemen konstitusional dalam natur manusia yaitu tubuh dan roh atau jiwa. Pernyataan Alkitab ini juga selaras dengan kesadaran diri manusia. Kendatipun manusia sadar akan kenyataan bahwa dirinya terdiri dari elemen-elemen material dan spiritual, tak ada seorangpun yang sadar ia memiliki roh yang berbeda dengan jiwa”


III. KESIMPULAN

Dari hasil penjabaran diatas maka penulis lebih berpihak konsep dikotomi karena memang demikian yang diajarkan oleh Alkitab (Matius 10:28 ; 1 Korintus 7:34). Alkitab mengajarkan bahwa jiwa dan roh bukan dua elemen manusia yang berbeda, tetapi satu kesatuan dan dipakai secara bergantian. Ambil contoh, di dalam 1 Korintus 7:34, kata “jiwa” di dalam terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) diterjemahkan spirit di dalam King James Version (KJV) yang dalam bahasa Yunani adalah pneuma, lalu kata “jiwa” di dalam Matius 10:28 menurut terjemahan LAI diterjemahkan soul di dalam KJV yang dalam bahasa Yunani adalah psuchē. Lalu, Tuhan Yesus dan Paulus sama-sama tidak memisahkan pengertian antara jiwa dan roh
Penulis melihat beberapa hal yang merupakan kelemahan dari konsep trikotomi, diantaranya bahwa konsep trikotomi membedakan jiwa dan roh tanpa landasan Alkitab yang kuat. Kemudian, jika konsep trikotomi mendefenisikan jiwa adalah menyangkut Pikiran, emosi dan kemauan. Benarkah? Apakah roh tidak ada pengetahuan, tidak ada emosi, tidak ada kemauan? Apakah roh tidak mempunyai fungsi intelektualitas, tidak mempunyai fungsi benci-kasih?. Allah itu roh atau jiwa? Jika Allah itu Roh, apakah Allah tidak memiliki intelektualitas, emosi, dan kemauan? Pada kenyataannya adalah Allah memiliki unsur-unsur itu. Ia memilki intelektualitas, emosi dan kemauan.




Oleh: Sukardi.


Lawang, 01102008

GABUNG YUK


hai kamu-kamu rekan rekan mahasiswa teologi, dimanapun anda berada, gabung yuuk disini. bersama saya dhidhe untuk menuangkan berkat-barkat yang kita bisa terima dari kebenaran Firman Tuhan. anda bisa menulis hasil-hasil penggalian anda, anlisis terhadap alkitab, sehingga bisa di baca oleh semua orang and kita bisa menjadi berkat bagi mereka. klo ada yang mau tulisannya ditampilkan di blog ini. silahkan kirim di email saya di dhidhe@gmail.com. beserta foto anda and alamatnya juga.

HIDUP BERGAUL DENGAN TUHAN

HIDUP BERGAUL DENGAN TUHAN

(YAK 4:8)

Yakobus menghimbau kepada pembaca suratnya agar mereka mendekatkan diri kepada Tuhan maka Tuhan akan mendekat. Namun sebelum itu ada hal yang perlu di renungkan bahwa untuk dekat dengan sesuatu atau dengan seseorang harus diawali dengan membiasakan diri dengan orang itu, hal inilah yang disebut dengan bergaul. Untuk kita bisa dekat dengan Tuhan maka kita perlu bergaul denganNya. Dalam Alkitab terjemahan Indonesia ada dua tokoh yang sangat jelas dipaparkan bahwa mereka hidup bergaul dengan Allah, mereka adalah Henok dan Nuh (Kej 5:24; 6:9) . Dengan penekanan kata ini maka bisa dilihat bahwa kehidupan dari kedua tokoh ini memiliki kisah hidup yang sungguh luar biasa. Henok tidak mengalami kematian dan Nuh merupakan penyambung generasi mahluk hidup ketika Allah membinasakan dunia dengan air bah. Semua hal ini terjadi, tidak lain karena mereka hidup bergaul dengan Allah


Kata bergaul menurut Alkitab KJV diartikan dengan kata Walked with God.(Berjalan bersama dengan Tuhan). Dalam bahasa Ibraninya memakai kata הלך (hâlak) yang dapat berarti pergi, berjalan. . Orang yang bergaul dengan Allah adalah orang yang berjalan dalam langkah Allah. Dalam Amos 3:3 dikatakan "berjalankah dua orang bersama-sama jika mereka belum berjanji?", sebelum orang berjalan bersama terlebih dulu ada agreement. Henokh dan Nuh adalah dua orang yang mengadakan agreement dengan Allah sebelum melangkah. Agreement menunjukkan keseriusan kita dan penyerahan diri kita di hadapan Allah Berarti Henok dan Nuh dalam hidupnya berjalan bersama dengan Allah. Orang yang berjalan bersama dengan Allah akan menyerahkan semua persoalan, beban hidup kedalam tangan Tuhan.

Tuhan Bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia

Kehidupan yang bergaul dengan Allah akan mendapat dampak-dampak yang luar biasa:

1.Hidup akan menuju pada pengenalan akan Allah yang lebih Baik

Dampak yang kadang tidak disadari dalam pergaulan adalah adanya pengenalan. Pengenalan terjadi akan berjalan sejauh mana pergaulan itu berjalan. Pergaulan mengakibatkan adanya interaksi dimana pengenalan setiap sisi-sisi akan terjadi dengan spontan. Demikian halnya dengan Nuh, ketika ia bergaul dengan Allah maka Ia memiliki keyakinan untuk percaya akan kehendak Tuhan. Dalam hal ini secara tersirat Nuh mengerti akan hati Allah sehingga Ia menempatkan hidupnya untuk diatur diabawa kuasa Tuhan yang akan membimbing ia kepada keselamatan. Secara logika dan pemikiran yang sederhana perintah Allah terhadap Nuh untuk membangun bahtera sangatlah mustahil, tetapi karena Nuh bergaul dengan Allah, Ia mengenal, Allah mengetahui maksudNya, mengerti rancanganNya, maka tantangan apapun Ia jalani untuk menjalankan perintah Allah.

2.Hidup akan mendapat pengaruh yang Ilahi ( Kel 34:35)

Dalam pergaulan pasti ada interaksi, dimana akan ada yang mempengaruhi dan yang di pengaruhi. Pergaulan dengan Allah akan membawa dampak dimana kehidupan kita akan mendapatkan pengaruh dari yang ilahi. Musa mengalami hal seperti ini. Musa memang tidak tercatat dengan gamblang bahwa ia bergaul dengan Allah, tetapi perjalanan hidup yang dikisahkan dalam Alkitab menunjukkan bahwa ia adalah orang sangat akrab dengan Tuhan (Kel 33:18-23). Ketika Musa berjalan dalam rencana besar Allah untuk membawa bangsa Israel keluar dari tanah mesir menuju tanah perjanjian, maka pola pikirnya dan tindakannya selalu bergantung pada Tuhan. Melihat dari hal ini maka pengaruh ilahi dalam kehidupan ketika bergaul dengan Tuhan akan terwujud dalam:

  1. Iman mengalami pertumbuhan
  2. Sikap hidup yang positip dan bijaksana.
  3. Menjadi berkat bagi orang lain.
  4. Mampu menjalani tantangan Hidup
  5. Memiliki kuasa untuk menang dalam pergumulan hidup.

Tidak semua orang dapat memiliki hal-hal diatas itu, hanyaorang-orang yang bergaul dengan Tuhan memiliki sikap hidup yang positif. Alkitab mencatat bahwa Nuh merupakan orang yang adil, Ia sempurna, tidak bercela. Semua itu karena dampak dari pergaulannya dengan Tuhan yang begitu Akrab sehingga sendi-sendi kehidupan tertampil untuk menjadi saksi bagi orang lain

Dari semua dampak-dampak itu, maka jelaslah bahwa hidup yang bergaul dengan Tuhan memiliki dampak yang sngat luar biasa. Satu hal juga yang perlu untuk ditekankan bahwa tanda hidup kita yang mengaku sebagai umat Tuhan adalah mau bergaul dengan Tuhan dalam setiap langkah hidup. Dan menyerahkan diri secara total kedalam kuat kuasa Tuhan untuk mau dituntun dan sehingga pengaruh ilahi tertampil dalam sikap hidup kita untuk menjadi berkat bagi orang-orang disekitar kita.

Renungkanlah akan hal ini, kita hidup dalam dunia diamana orang memilih untuk bergaul dengan siapa saja mereka mau. Kita diperhadapkan dengan pilihan. Jika kita ingin baik menjalani hidup ini , maka berjalanlah dengan Tuhan menyerahkan hidup sepenuhnya kedalam tangannya maka efek yang begitu luar biasa akan kita rasakan. Hos 6:3, 6.